[Blog Tour] Review The Stolen Years - Ba Yue Chang An


The Stolen Years
by Ba Yue Chang An
Penerbit Haru
Penerjemah oleh Jeanni Hidayat
Cover designer oleh Chyntia Yanetha
Cetakan pertama; Januari 2016; 348 hlm
Rate  4 of 5


Benarkah waktu dapat mengikis perasaan cinta?
Hal terakhir yang diingat He Man adalah ia sedang berbulan madu dengan suaminya, Xie Yu. Namun tiba-tiba gadis itu terbangun di rumah sakit dan sudah bercerai. He Man mengalami amnesia dan lupa akan lima tahun terakhirnya.
Ia tidak mengerti mengapa ia bisa bercerai dan Xie Yu padahal mereka saling mencintai. Ia tidak mengerti mengapa sahabatnya sekarang malah menjadi musuhnya. Ia tidak mengerti mengapa seakan semua orang membencinya.
Ketika He Man berusaha mengumpulkan kembali kenangan dan ingatannya, ia mulai menemukan hal-hal yang tidak pernah ia duga sebelumnya.


He Man dan Xie Yu pasangan yang sedang berbahagia. Mereka menikah, berbulan madu dan sering terlibat pertengkaran. Meski begitu, bagi He Man itu adalah saat-saat terindah di kehidupannya, menjalani kehidupan bersama orang yang dicintai dan mencintainya.


Hingga suatu ketika ia terbangun di rumah sakit setelah sebulan koma. Dokter memvonis bahwa He Man mengalami amnesia sementara yang mengakibatkan ingatannya selama 5 tahun yang lalu menghilang.


Betapa terkejutnya dia saat mendapati bahwa ia telah bercerai dengan Xie Yu setengah tahun yang lalu. Anehnya, tidak ada satu orang pun yang mau memberitahukannya, apa penyebab ia bercerai dengan Xie Yu. Dan masih banyak kejutan lainnya yang tidak He Man pahami.


He Man bertekad untuk mencari tahu apa penyebab perceraiannya dengan Xie Yu, dan itu dimulai dengan bertemu dengan Xie Yu. He Man harus menerima bahwa suami yang masih ia cintai sudah memiliki kekasih, dan belum lagi Xie Yu menutup mulutnya rapat-rapat tentang penyebab perceraian mereka. Xie Yu juga berubah menjadi sangat dingin kepada He Man. Membuat He Man selalu merasa sedih dan kesepian.


He Man tidak bisa menunggu ingatannya pulih dan terus diliputi tanda tanya. Sampai akhirnya ia mengetahui masa lalu dirinya yang begitu kelam.


Sampai rasanya He Man ingin bunuh diri ....


***


Siapa yang sangka, pengantin baru ini merupakan pasangan yang paling norak dan jorok yang pernah aku baca. Dan aku gak bisa tahan untuk tidak tersenyum membaca kelakuan mereka haha


Mereka bertengkar, tapi kenapa rasanya mereka bertengkar imut!?
“Kau mendengkur, aku kentut. Kebiasaan kita yang seperti ini, memang cocok untuk bersama sampai tua.” – hal 11
Inti cerita ini adalah tentang kesempatan kedua. Dimana He Man diberikan kesempatan untuk memperbaiki sikapnya yang membuat Xie Yu merasa tidak beharga di matanya, dan bagi Xie Yu ini adalah kesempatannya untuk menjadi suami yang lebih baik lagi. Aku suka penanaman pesan moral ini. Penulis tidak menjudge He Man bersalah karena sikapnya yang berubah total semenjak ia menjadi Direktur Divisi Kreatif, tapi penulis juga tidak  membenarkan segala perbuatan Xie Yu.
Berapa banyakkah hubungan yang kandas karena keegosian, dan berapa banyakkah cinta yang memudar karena kerakusan? – hal 143
Banyak hal yang aku sukai dari novel ini: tidak adanya tokoh antagonis, ada tokoh yang berfungsi sebagai “pemanas” tapi sebenarnya sangat baik, terus juga ada konflik yang menguji kesetian Xie Yu kepada He Man, dan harus aku akui, konflik terakhir ini terasa lebih menyesakan dada.


Untuk alur, ini menggemaskan sekaligus lucu banget. Disini kan ceritanya He Man hilang ingatan dari 5 tahun yang lalu, artinya itu tahun 2007, otomatis banyak hal yang gak ia ketahui. Disini He Man harus terbiasa dengan segala bentuk modern yang ada di tahun 2012. Aku suka cara penulis mendeskripsikan kepolosan He Man saat menggunakan gadget dan bagaimana Xie Yu mengajari He Man. Ada Momen saat mereka berdua menonton film dari terakhir kali He Man nonton. Pokoknya membaca momen-momen itu, membuat aku bertanya-tanya, emang masalah apa sih yang bikin mereka bercerai? Soalnya momen-momen itu, kita akan ditawarkan kemesraan yang “dulu” tidak pernah di ungkapkan oleh penulis.


Konflik utama adalah He Man yang kehilangan ingatan dan berusaha mencari ingatan tersebut. Tapi aku gak menyangka, kalau penulis sudah menyiapkan sesuatu di belakangnya. Sampai aku mikir, apa si penulis belum cukup menghukum pasangan ini? dan PARAHNYA sedihnya itu gak tanggung-tanggung.
Cinta kalah melawan sakit, juga kalah melawan kematian. Namun cinta akan selamanya hidup dalam ingatan manusia, akan menancapkan akarnya dengan kuat di dalam otak manusia. Selalu menunggu kehadiran kekasih yang dicintainya. –hal 339
Sebel?


Iya sebel banget. Tapi dari situ kita akan belajar beberapa hal. Banyak sekali pesan moral yang ditebar oleh penulis, terutama untuk para pasangan yang sudah menikah. Mungkin konflik rumah tangga He Man dan Xie Yu adalah hal umum yang terjadi pada siapapun, tapi dampaknya itu sungguh luar biasa bagi masa depan mereka.


Bagaimana seharusnya istri bisa menjaga harga diri suami, dan bagaimana sang suami untuk menurunkan egonya agar tidak termakan pancingan istri ketika mereka sudah mulai menampakan tanda-tanda ingin bertengkar.


Dan  beruntunglah bagi He Man yang diberi kesempatan kedua untuk “kembali” mencintai sang suami, sedangkan Xie Yu telah diberikan kesempatan kedua untuk bisa membuktikan bahwa ia akan menjaga He Man apapun kondisinya.


Karena tidak semua orang memiliki kesempatan seperti itu.


Secara keseluruhan, aku menyukai novel ini. Meski ini novel dewasa, tapi aku gak akan khawatir ketika remaja membacanya, tidak da adegan vulgar atau bahasa-bahasa yang tidak pantas. Pokoknya aman dech ...


Akhir kata ....


Selamat membaca ^^


***
Tulisan ini diikutsertakan dalam:Read at Your Own Risk Challenge 2016